MENU

TA'RIIFU NAFSII

My Photo
Call me "James". I was taught and trained since childhood by my parents to be a strong and broad-minded and the adventurous life since childhood I go abroad and learn all the essence of life on earth 'now, I'm still studying in Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga INDONESIA.He he,,!

Friday, January 7, 2011

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN TAFSIR


PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TAFSIR
“Dan Kami turunkan kepadamu Az-Zikr (Al-Qur’an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkannya.”
(QS. An-Nahl [16] : 44)
BAB IX.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TAFSIR
A.      Tafsir Masa Rasul & Shahabat
Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT yang bertugas menyampaikan risalah Islam kepada manusia dituntut untuk mampu menjelaskan segala yang terkandung didalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam. Beliau SAW menjelaskan Al-Qur’an dengan menafsirkan antar ayat Al-Qur’an & dengan hadits yang beliau SAW keluarkan. Karena intinya, hadits adalah juga wahyu Allah SWT yang keluar dari kalam Rasul SAW. Karena Rasul SAW tidaklah melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an.
Muhammad Ismail mengatakan bahwa Rasul SAW sama sekali tidak pernah berijtihad & beliau SAW tidak patut berijtihad, baik ditinjau secara syar’i maupun aqli. Secara syar’i telah dijelaskan bahwa semua ucapan, peringatan & apa saja yang beliau SAW lakukan adalah bersumber dari wahyu. Ini dapat dilihat dari firman Allah SWT :

قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ

“Katakanlah (hai Muhammad) : "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan.” (QS. Al-Anbiya [21] : 45)
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ ءَايَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْءَانٍ غَيْرِ هَذَا أَوْ بَدِّلْهُ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata : "Datangkanlah Al-Qur'an yang lain dari ini atau gantilah dia". Katakanlah : "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)." (QS. Yunus [10] : 15)
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى(3)إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53] : 3-4)
Sedangkan ditinjau dari aqli bahwa ijtihad ada kemungkinan benar & salah. Sementara sebagai pengemban risalah, beliau SAW tidak boleh melakukan kesalahan dalam penyampaian risalah. Oleh karena itu kita selalu melihat Rasul SAW selalu menunggu datangnya wahyu untuk menetapkan suatu hukum tidak berusaha untuk berijtihad.[1]
Sedangkan para shahabat ra dalam menafsirkan suatu ayat mereka berpegang kepada :
1.       Al-Qur’an. Misalnya firman Allah SWT :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 1)
ditafsirkan dengan
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah [5] : 3)
Contoh kedua adalah firman Allah SWT :

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6] : 103)
ditafsirkan dengan

إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah [75] : 23)
2.       Nabi SAW. Para shahabat ra selalu bertanya kepada Rasul SAW jika ada ayat yang mereka tidak mengerti. Misalnya firman Allah SWT :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman & tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan & mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6] : 82)
yang ditafsirkan[2] Rasul SAW dengan mengatakan bahwa kata zhalim disini berarti syirik.
3.       Pemahaman. Jika mereka tidak mendapatkan penjelasan dari Al-Qur’an & dari Rasul SAW (terutama setelah Rasul SAW wafat), mereka akan melakukan ijtihad sesuai dengan pemahaman mereka. Namun perlu ditegaskan bahwa dalam penyampaian & penafsiran Al-Qur’an, para shahabat melakukannya sebatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran pada yang samar & penjelasan pada yang global.
Diantara shahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir ada 10 orang. Mereka adalah empat khalifah, Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair. Ada juga yang menambahkan dengan Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin ‘Amr bin ‘As & Aisyah.
Diantara khalifah yang empat, Ali bin Abi Thalib kw adalah yang paling banyak menjadi sumber riwayat. Hal ini karena ketiga khalifah terdahulu lebih dahulu wafat. Mu’ammar meriwayatkan dari Wahab bin Abdullah dari Ubay At-Thufa’il, ia berkata, “Aku pernah mendengar Ali berkhutbah, ia berkata : Tanyalah kepadaku, demi Allah kamu tidak bertanya kepadaku tentang sesuatu melainkan pasti aku menjawabnya. Tanyalah kepadaku tentang kitab Allah. Demi Allah, tidak ada satu ayat pun kecuali aku mengetahui apakah ia turun pada waktu malam ataupun pada waktu siang, dilembah atau digunung.[3]
Jumhur ulama berpendapat, tafsir shahabat mempunyai status marfu’ bila berkenaan dengan asbabun nuzul & semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’yu. Sedangkan hal yang mungkin dimasuki ra’yu maka statusnya mauquf pada shahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah SAW.
Zarkasyi dalam Al-Burhan berkata, “Jika berasal dari shahabat (penafsiran berdasarkan riwayat), perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa? Jika ternyata demikian, maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa Arab, karena itu pendapatnya dapat dijadikan pegangan, tanpa diragukan lagi.[4]
Ibn Katsir mengatakan, “Apabila anda tidak dapat menafsirkan Al-Qur’an dengan Sunnah maka merujuklah kepada pendapat para shahabat ra. Mereka lebih mengetahui hal itu sebab mereka melihat fakta & kondisi kejadian Sunnah. Mereka memiliki pemahaman yang sempurna, ilmu yang shahih & amal shalih.[5]
Pada masa ini tidak ada sedikitpun tafsir yang dibukukan, sebab tafsir hanya merupakan cabang dari hadits & belum mempunyai bentuk yang teratur.

B.       Tafsir Masa Tabi’in
Tabi’in menambahkan kedalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kesulitan yang timbul sesudah masa shahabat. Mereka tetap berpegang teguh dengan kaidah penafsiran pada masa shahabat (yakni penafsiran yang didasarkan pada riwayat yang didiktekan) & menambahkan dengan ijtihad mereka serta ‘sedikit’ cerita-cerita Isra’iliyat dari para ahli kitab yang telah masuk Islam.[6]
Diantara tabi’in yang terkenal sebagai ahli tafsir ialah :
1.       Di Makkah, berdiri perguruan Ibnu Abbas dengan muridnya yang terkenal seperti Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah, Tawus bin Kaisan Al-Yamani & ‘Ata bin Abi Rabah.
2.       Di Madinah, terdapat murid Ubai bin Ka’ab yang terkenal seperti Za’id bin Aslam, Abu ‘Aliyah & Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazi.
3.      Di Irak, berdiri perguruan Ibn Mas’ud. Tabi’in yang terkenal diantaranya ‘Alqamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, ‘Amir Asy-Sya’by, Hasan Al-Basri & Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.
Ibnu Taimiyah berkata, “Syu’bah bin Hajjaj & lainnya berpendapat : “Pendapat para tabi’in itu bukan hujjah.” Maksudnya, pendapat-pendapat itu tidak menjadi hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pendapat yang benar. Namun jika mereka sepakat atas sesuatu, maka tidak diragukan lagi bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah.”[7]

C.       Tafsir Masa Pembukuan
Masa pembukuan dimulai pada akhir Dinasti Umayyah & awal Dinasti Abbasiyah. Tafsir hanya merupakan salah satu bab dari kitab hadits. Tokoh terkemuka dibidang ini ialah Yazid bin harun As-Sulami (w. 117 H), Syu’bah bin Al-Hajjaj (w. 160 H), Waki’ bin Jarrah (w. 197 H), Sufyan bin ‘Uyainah (w. 198 H), Rauh bin ‘Ubadah Al-Basri (w. 205 H) Abdurrazaq bin Hammam (w. 211 H) Adam bin Abu Iyas (w. 220 H) & ‘Abd bin Humaid (w. 249 H).
Kemudian tafsir ditulis secara khusus & independent serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri & terpisah dari hadits. Qur’an ditafsirkan secara sitematis sesuai dengan tertib mushaf. Diantara mereka ialah Al-Farra[8] (w. 207 H), Ibn Majah (w. 273 H), Ibn Jarir At-Tabari (w. 310 H), Abu Bakar An-Naisaburi (w. 318), Ibn Abi Hatim (w. 327 H), Abusy Syaikh bin Hibban (w. 369 H), Al-Hakim (w. 405 H) & Abu Bakar bin Mardawaih (w. 410 H). Tafsir Ibn Jarir dianggap istimewa karena beliau memaparkan berbagai pendapat & mentarjih salah satunya serta menerangkan i’rab & istinbat.
Kemudian timbul mufassir yang melakukan tafsir dengan meringkas sanad-sanad & menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebutkan pemiliknya. Karena itu persoalannya menjadi kabur & riwayat yang shahih bercampur dengan yang tidak shahih.
Kemudian tafsir terpolusi dengan dengan berbagai fanatisme mazhab & masalah-masalah kalam. Tiap mufassir memenuhi tafsirnya hanya dengan ilmu yang dikuasainya tanpa memperhatikan ilmu-ilmu yang lain. Seperti tafsir yang hanya berdasarkan ilmu rasional, ilmu fiqh, ilmu sejarah, ilmu nahwu & saraf, makna-makna isyari & penakwilan kalamullah. Dengan demikian tafsir bercampur antara yang berguna dengan yang berbahaya. Tafsir bi ar-ra’yi menang atas tafsir bi al-ma’sur.
Kemudian datanglah masa kebangkitan modern yang memperhatikan keindahan uslub & kehalusan ungkapan serta menitikberatkan pada aspek-aspek sosial, pemikiran kontemporer & aliran modern, maka lahirlah tafsir ‘sasra sosial’. Diantara mereka adalah M. Abduh,[9] Sayid M. Rasyid Rida, M. Mustafa Al-Maragi, Sayid Qutub & M. ‘Izzah Darwazah.
Adapun beberapa nama kitab tentang Al-Qur’an yang disusun oleh ulama dari abad ke-3 H dapat dilihat sebagai berikut ini :
1.       Abad ke-3 H : Al-Farra (wafat 207 H) merupakan orang yang pertama kali menafsirkan Al-Qur’an ayat demi ayat, Ali bin Al-Madini (wafat 234 H) menyusun Asbabun Nuzul, Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin salam (wafat 224 H) menyusun Nasikh wal Mansukh & Qiraat, Ibnu Qutaibah (wafat 276 H) menyusun Musykilatul Qur’an.
2.       Abad ke-4 H : Ibn Jarir At-Tabari (wafat 310 H) menyusun tafsir sempurna berdasarkan susunan ayat, Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun Al-Hawi fa ‘Ulumil Qur’an, Abu Bakar As-Sinjistani menyusun Garibul Qur’an, Muhammad bin Ali Al-Adfawi (wafat 388 H) menyusun Al-Istigna’ fi ‘Ulumil Qur’an
3.       Abad ke-5 H : Abu Bakar Al-Baqalani (wafat 403) menyusun I’jazul Qur’an, Ali bin Ibrahim bin Sa’id Al-Hufi (wafat 430 H) menyusun I’rabul Qur’an, Al-Mawardi (wafat 450 H) menyusun Amsalul Qur’an.
4.       Abad ke-6 H : Ibnul Jauzi (wafat 579 H) menyusun Fununul Afnan fi ‘Aja’ibi ‘Ulumil Qur’an.
5.       Abad ke-7 H : Al-Izz bin ‘Abdus Salam (wafat 643 H) menyusun majaz dalam Qur’an, ‘Alamuddin As-Sakhawi (wafat 643 H) menyusun ilmu qiraat
6.       Abad ke-8 H : Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 749 H) menyusun kitab lengkap dengan judul Al-Burhan fi ‘Ulumil Qur’an.
7.       Abad ke-9 H : Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) menyusun Mawaqi’ul ‘Ulum min Mawaqi’in Nujum.
8.       Abad ke-10 H : Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) menyusun Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an.
9.       Masa Kebangkitan Modern : Mustafa Sadiq Ar-Rafi’i menyusun kitab I’jazul Qur’an, Sayyid Qutb menyusun kitab At-Taswirul Fanni fil Qur’an & Masyahidul Qiyamah fil Qur’an & banyak lagi penulis lainnya.
Menurut Abdurrahman Al-Bagdadi,[10] tidak diragukan lagi bahwasanya ummat Islam dewasa ini membutuhkan para ahli tafsir Al-Qur’an yang mampu menjelaskan masalah-masalah baru. Kitab-kitab tafsir lama dari segi bentuk & penguraiannya kurang menarik minat membaca umat saat ini. Untuk itu diperlukan cara penulisan tafsir yang dapat meningkatkan minat membaca umat. Selain itu, para mufassir abad ini harus membuat kitab tafsir yang dapat membersihkan kitab-kitab tafsir masa lalu yang banyak mengandung cerita-cerita Isra’illiyat & campur aduknya dengan ilmu-ilmu yang tidak penting. Sehingga, kitab tafsir yang dibuat seperti layaknya tafsir para shahabat yang hanya memuat nash Al-Qur’an, nash hadits serta ijtihad didalam tafsirnya.

F.       Kitab Tafsir Terkenal
1.       Kitab Tafsir bil Ma’sur
Diantara kitab tafsir bil Ma’sur yang terkenal & banyak beredar adalah : (1) Tafsir yang dinisbatkan kepada Ibn Abbas,(2) Tafsir Ibn ‘Uyainah, (3) Tafsir Abi Hatim,(4) Tafsir Abusy Syaikh bin Hibban, (5)Tafsir ‘Atiyah,(6) Tafsir Abul Lais As-Samarqandi, Bahrul ‘Ulum, (7) Tafsir Abu Ishaq, Al-Kasyfu wal Bayan ‘an Tafsirul Qur’an, (8) Tafsir Ibn Jarir At-Tabari, Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, (9) Tafsir Ibn Abi Syaibah, (10) Tafsir Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil, (11) Tafsir Abil Fida Al-Hafidz Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil ‘Adzim, (12) Tafsir As-Sa’labi, Al-Jawahirul Hisan fi Tafsiril Qur’an, (13) Tafsir Jalaludin As-Suyuti, Ad-Durrul Mansur fit Tafsiri bil Ma’sur, (14) Tafsir Asy-Syaukani, Fathul Qadir.
2.       Kitab Tafsir bir Ra’yi
Diantara kitab tafsir bir Ra’yi yang terkenal adalah : (1) Tafsir Abdurrahman bin Kaisan Al-Asam, (2) Tafsir Abu ‘Ali Al-Juba’i, (3) Tafsir ‘Abdul Jabbar, (4) Tafsir Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iqi Gawamidit Tanzil wa ‘Uyunil Aqawil fi Wujuhit Ta’wil, (5) Tafsir Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Gaib, (6) Tafsir Ibn Furak, (7) Tafsir An-Nasafi, Madarikut Tanzil wa Haqa’iqut Ta’wil, (8) Tafsir Al-Khazin, Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, (9) Tafsir Abu Hayyan, Badrul Muhit, (10) Tafsir Al-Baidawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, (11) Tafsir Jalalaian ; Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuti, (12) Tafsir Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, (13) Tafsir Abus Su’ud, Irsyadul ‘Aqlis Salim ila Mazayal Kitabil Karim, (14) Tafsir Al-Alusi, Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil ‘Adzim was Sab’ii Masani.

G.      Riwayat Hidup Beberapa Mufassir & Tafsirnya
1.       Ibn Abbas ra
Beliau adalah Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Dilahirkan tiga tahun sebelum hijrah di Syi’b. Wafat di Thaif pada 68 H menurut jumhur ulama. Ibn Abbas terkenal dengan julukan Turjumanul Qur’an, Habrul Ummah & Ra’isul Mufassirin. Umar ra sangat menghormati & mempercayai tafsir-tafsirnya. Pada beberapa bagian tafsirnya, terkadang mengutip dari Ahli kitab keterangan-keterangan yang sesuai dengan Al-Qur’an, namun jumlahnya amatlah terbatas. Ibn Abbas, dalam memahami makna lafadz Al-Qur’an banyak merujuk pada syair Arab, karena pengetahuannya yang sangat tinggi tentang bahasa Arab & sasra Arab.
Riwayat dari ibn Abbas mengenai tafsrnya tidak terhitung banyaknya, yang baik diantaranya : (1) Melalui Mu’awiyah bin Salih dari ‘Ali bin Abi Thalhah dari Ibn Abbas. Inilah yang paling baik. (2) Melalui Qais bin Muslim Al-Kufi dari ‘Ata’ bin As-Sa’ib dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas. Ini juga shahih menurut syarat syaikhain. (3) Melalui Ibn Ishaq dari Muhammad bin Muhammad dari ‘Ikrimah atau Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas. Periwayatan ini jayyid & isnadnya hasan, baik.
2.       Mujahid
Beliau adalah Mujahid bin Jabir Al-Makki Abul Hajjaj Al-Makhzumi Al-Muqri’. Dilahirkan pada 21 H & wafat pada 102 H atau 103 H atau 104 H. Beliau adalah murid Ibn Abbas & beliau merupakan pemimpin atau tokoh utama mufassir generasi tabi’in. Namun periwayatannya lebih sedikit dibanding tabi’in lain. Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani,[11] Mujahid selalu bertanya kepada ahli kitab dan karena aspek inilah sebagian ulama berhati-hati dalam mengambil perkataannya walaupun mereka bersepakat terhadap kebenarannya. Sebagai contoh Imam Bukhari & Imam Syafi’i berpegang pada tafsirnya.
3.       At-Tabari
Beliau adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid bin Kasir Abu Ja’far At-Tabariat-Tabari. Dilahirkan di Bagdad 224 H & wafat di Bagdad 310 H. Kitab tafsirnya Jami’ul Bayan fi Tafsirul Qur’an, merupakan tafsir paling besar & utama serta menjadi rujukan penting bagi mufassir bil ma’sur. Tafsirnya terdiri dari 30 jilid & merupakan tafsir paling tua yang sampai kepada kita secara lengkap.
Metode penafsirannya adalah dengan memaparkan berbagai pendapat dengan sanad yang lengkap & mengkonfrontirkannya lalu mentarjihnya. Beliau juga menerangkan aspek i’rab jika perlu. Ibn Jarir menaruh perhatian besar terhadap qira’at, beliau juga meriwayatkan kisah Isra’illiyat yang disusul dengan pembahasan & kritikan. Ibn Jarir berpedoman pada riwayat-riwayat shahih, syair-syair Arab kuno, ilmu nahwu & berpijak pada penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal luas.
4.       Ibn Katsir
Beliau adalah Isma’il bin ‘Amr Al-Quraysi bin Kasir Al-Basri Ad-Dimasyqi ‘Imaduddin Abul Fida’ Al-Hafidz Al-Muhaddis Asy-Syafi’i. Dilahirkan pada 705 H & wafat 774 H. Ia adalah murid Ibn Taimiyah. Kitab tafsirnya adalah Tafsirul Qur’anil ‘Azim, merupakan kitab tafsir bil ma’sur kedua terbaik, terdiri dari empat jilid berukuran besar. Sekarang terdapat ringkasannya yang dibuat oleh M. Nasib Ar-Rifa’i.
Ciri khas & keistimewaannya adalah perhatiannya yang cukup besar terhadap metode tafsir Qur’an dengan Qur’an. Tafsirnya paling banyak memaparkan ayat-ayat yang bersesuaian maknanya, diikuti dengan hadits-hadits marfu’ yang relevan serta menjelaskan apa yang menjadi hujjah dari ayat tersebut. Kemudian diikuti pula dengan asar shahabat, pendapat tabi’in & ulama sesudahnya. Juga memuat peringatan akan riwayat Isra’illiyat munkar yang terdapat dalam tafsir bil ma’sur. Pada pengungkapan berbagai pendapat ulama tentang hukum fiqih yang kadang-kadang disertai pendiskusian atas mazhab & dalil yang dikemukakan masing-masing.
5.       Ar-Razi
Beliau adalah Muhammad bin Umar bin Hasan At-Tamimi Al-Bakri At-Tabaristani Ar-Razi Fakhruddin, terkenal dengan Ibnul Khatib Asy-Syafi’i Al-Faqih. Dilahirkan di Ray 543 H & wafat di Harah 606 H. Kitab tafsir besarnya adalah Mafatihul Gaib yang merupakan kitab tafsir bir ra’yi yang terdiri dari delapan jilid besar. Namun tidak sempat terselesaikan & dilanjutkan oleh beberapa orang. Sekalipun demikian, pembaca tafsir ini tidak akan mendapatkan perbedaan metoda & alur pembahasan dalam penulisannya.
Tafsir ini menjadi eksiklopodia ilmiah tentang ilmu kalam, kosmologi & fisika sehingga ia kehilangan relevansinya sebagai tafsir Al-Qur’an. Oleh karena itu tafsir ini tidak memiliki ruhiyah tafsir & hidayah Islam. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan bahwa didalamnya terdapat segala sesuatu selain tafsir itu sendiri.
6.       Az-Zamakhsyari
Beliau adalah Abul Qasim Mahmud bin Umar Al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari. Dilahirkan di Zamakhsyar 27 Rajab 467 H & wafat di Jurjaniah Khawarizm 538 H. Kitab tafsirnya Al-Kasysyaf ‘an Haqa’iqi Gawamidit Tanzil wa ‘Uyunil Aqawil fi Wujuhit Ta’wil. Ini merupakan kitab tafsir bir ra’yi paling masyhur & dipakai banyak ulama.
Az-Zamakhsyari adalah ulama genius yang sangat ahli dalam ilmu nahwu, bahasa, sasra & tafsir. Ia penganut paham Mu’tazilah & bermazhab Hanafi. Ia mampu mengungkapkan isyarat yang jauh dalam makna ayat untuk membela kaum Mu’tazilah & menyanggah lawannya. Namun ia berjasa dari aspek kebahasaan, ia telah menyingkap keindahan Al-Qur’an & daya tarik balagahnya. Karenanya ia menjadi rujukan kebahasaan. Oleh karena itu, kitab tafsirnya akan sangat berbahaya jika dibaca oleh orang yang kurang kuat aqidahnya, namun sangat bermanfa’at bagi orang yang tetap berpegang pada aqidah yang benar.
7.       Asy-Syaukani
Beliau adalah Qadi Muhammad bin Ali bin Abdullah Asy-Syaukani As-San’ani. Dilahirkan di Syaukan 1173 H & wafat 1250 H. Kitab tafsirnya Fathul Qadir. Ia awalnya bermazhab Zaidi namun akhirnya menjadi seorang mujtahid mutlak.
Asy-Syaukani merupakan ahli ilmu nahwu, saraf & balagah serta menguasai ilmu ushul & tata cara meneliti & berdebat. Tafsirnya menggabungkan antara riwayat dengan istinbat & penalaran atas nash ayat. Beliau banyak bersandar pada An-Nahhas, Ibn ‘Atiyah & Al-Qurtubi.[]
˜™

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Ya Allah, tambahkanlah ilmu pada dadaku.
Dan jauhkanlah aku dari sifat sombong, pongah & takabur yang menyebabkan aku mendapat murka-Mu & terlempar kedalam neraka-Mu.
Ampunilah aku. Jadikanlah ilmu yang ada didalam dadaku sebagai ilmu yang bermanfaat yang dapat mengantarkan aku kedalam ridla-Mu
& aku memohon kepada Engkau akan surga-Mu …
(M. Fachri Simatupang)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ - AlKhamis, 21 Shawwal, 1428 - 1 November 2007


[1]Bunga Rampai Pemukiran Islam hal 61-62. Pembahasan lebih dalam mengenai masalah ini dapat dilihat dalam Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah I hal 138-150.
[2]Penafsiran ayat Al-Qur’an yang diambil dari Rasulullah SAW, jika shahih, dianggap bagian dari hadits dan tidak dianggap sebagai tafsir. Karena saat itu ia menjadi nash tasyri’ seperti halnya Al-Qur’an. (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah I hal 307). Posisi ini tentunya membuat tafsir dari Rasulullah SAW lebih bernilai hukum ketimbang tafsir dari shahabat atau yang lain.
[3]Apa Itu Al-Qur’an hal 100-101.
[4]Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 472-473.
[5]Ringkasan Tafsir Ibnul Katsir jilid I (Kata pengantar tafsirnya).
[6] Mereka adalah Abdullah bin Salam, Ka’bul Ahbar, Wahb bin Munabbih & Abdul Malik bin Abdul ‘Aziz bin Juraij.
[7]Muqaddimah fi Usulit Tafsir hal 28-29 yang dikutip dalam Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an hal 475-476.
[8]Imam Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan bahwa Al-Farra’ (w. 207 H) adalah orang pertama yang telah melakukan penelitian terhadap penafsiran ayat demi ayat Al-Qur’an, kemudian menafsirkannya secara berurutan. (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah I hal 296)
[9]Tafsirnya tidak dianggap sebagai bagian dari tafsir & tidak selalu harus dipercaya. Sebab, didalamnya mengandung pengangkangan terhadap agama Allah SWT dalam menafsirkan kebanyakan ayat-ayat. Yang semisal M. Abduh adalah tafsir Thanthawi Jauhari, tafsir Ahmad Musthafa Al-Maraghi, tafsir Musthafa Zaid dan sejenisnya. (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah I hal 298)
[10]Beberapa Kaedah Penafsiran hal 80-84.
[11]Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyah I hal 293.

Reactions:

1 comments:

  1. Bagaimana pendapat anda mengenai perkembangan tafsir di masa sekarang ini?

    ReplyDelete